Judul Buku : Menalar Tuhan Pengarang : Franz Magnis - Suseno Penerbit : Kanisius Tahun Terbit : 2005 Tebal : 246 halaman Peresensi : Rosalia Retno Meiwati Dimuat di : Tabloid Komunio Palembang, Februari 2006
Sebuah pertanyaan yang menarik dan cukup menyentak keberimanan kita di era modernitas seperti sekarang ini. Eksistensialitas Tuhan sebagai Yang Maha Ada agaknya diragukan oleh manusia pada abad ke-21 ini. Bahkan beberapa filosof terkenal, seperti Nicolaus Cusanus, Descartes, Pascal, Spinoza, Leibniz, Kant, Schleiermacher, Schelling, dan Hegel, mempertanyakan keberadaan Tuhan. Menalar Tuhan, merasionalkan keberadaan Tuhan, masih menjadi perdebatan, terutama di dalam dunia filsafat. Tuhan masih berada di luar batas-batas rasional. Kenyataan itulah yang menjadi alasan mengapa buku ini ditulis. Buku ini diawali dengan sebuah pertanyaan besar: Untuk apa dan bagaimana Tuhan dinalar? Sebagai permulaan, penulis memberikan gambaran pemikiran-pemikiran manusiawi tentang Tuhan dan mempertemukan antara filsafat dan teologi, sampai pada pertanggungjawaban rasionalitas. Selanjutnya, kita akan melihat betapa majemuk penghayatan ketuhanan dalam umat manusia, misalnya penghayatan Hinduisme, Buddisme, Tionghoa, dan sebagainya. Kita harapkan tidak berpandangan sempit mengira bahwa seluruh umat manusia menghayati ketuhanan seperti cara yang kita lakukan. Ketika sampai pada pembahasan tentang penghayatan Buddisme, ada hal yang menarik. Menurut Sang Buddha sikap diam terhadap Tuhan tidak boleh diartikan sebagai ateisme, melainkan sebagai penghayatan Tuhan menurut via negativa. Manusia hendaknya secara rendah hati melakukan apa yang dapat dilakukannya. Segala spekulasi tentang Tuhan hanyalah pamrih saja (hlm.33). Penulis juga menggariskan adanya perubahan-perubahan mendalam dalam pengertian diri manusia di ambang modernitas dan dampaknya pada pengertian tentang ketuhanan. Selangkah lebih mendalam, penulis membicarakan secara kritis lima tokoh ateisme modern yang paling berpengaruh : Feuerbach, Marx, Freud, Nietzsche, dan Sartre. Ada hal yang disampaikan oleh Freud tentang agama. Menurutnya agama tidak lebih sebagai pelarian neurotis dan infantil dari realitas. Mengapa? Karena manusia tidak berani menghadapi kenyataan yang terjadi di dunia, mereka malah mencari keselamatan dari Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak nyata. Dengan penuh ketakutan manusia tunduk terhadap sesuatu yang ada kaitannya dengan dunia nyata. Sikap ini, oleh Freud, merupakan sikap khas dari orang neurotis dan infantil. Kalau manusia mau menjadi mampu dan betul-betul menanggulangi tantangan-tantangan dunia nyata, ia harus membebaskan diri dari neurotik agama muncul ketika agama secara tidak proporsional hanya memfokuskan pada ritus dan larangan-larangan kaku bagi pengikutnya. Nuansa neurotis kelihatan apabila ada banyak unsur komulsif di dalam agama di mana banyak orang terus merasa wajib ini, terlarang itu yang membuatnya semakin tidak berani dan tidak mampu memakai nalar dan rasa tanggung jawabnya sendiri (hlm.90). Dalam bab lima dibahas apa yang oleh penulis dianggap sebagai tantangan terbesar dalam penalaran tentang Tuhan, yaitu agnostisisme, anggapan bahwa tentang Tuhan kita tidak dapat mengetahui sesuatu, jadi bahwa filsafat harus diam tentang Tuhan. Pembahasan ateisme dan agnostisisme membuka jalan untuk bertanya secara positif: Dapatkah nalar menemukan petunjuk-petunjuk tentang adanya Tuhan? Pembicaraan ini kemudian dilanjutkan oleh penulis dengan menguak adanya tiga “jalan ke Tuhan” yang sudah “klasik”, yaitu argumen ontologis, argumen kosmologis, dan argumen teleologis. Jalan-jalan ini mau menunjukkan bahwa apa yang kita temukan di alam pengalaman tidak dapat dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. Kita akan melihat bahwa, meskipun tiga jalan ini memang menunjuk pada Tuhan, tetapi juga mempunyai kelemahan-kelemahan serius. Di bab selanjutnya, penulis mengikuti cara berpikir yang berbeda. Penulis tidak lagi menarik kesimpulan dari realitas duniawi ke Tuhan, melainkan mencoba menunjukkan, dengan bertolak dari empat penghayatan, bahwa manusia, dalam pengalamannya dengan dunia, selalu bersentuhan dengan Tuhan dan bahwa dalam arti ini – para filosof menyebutnya transendental – manusia mempunyai pengalaman tentang Tuhan, meskipun sebagai latar belakang dan bukan sebagai objek. Di antara empat penghayatan ini yang akan kelihatan bersentuhan dengan Tuhan dengan paling mengesankan adalah hati nurani. Kemudian, penulis menjelaskan hubungan antara Tuhan dan dunia, diantaranya adalah masalah bahasa tentang Tuhan, penciptaan dan pertanyaan apakah kemahakuasaan Tuhan masih mengizinkan ruang bagi kebebasan manusia. Sebagai bahasan akhir, penulis mengangkat masalah yang sejak lama dianggap masalah Filsafat Ketuhanan yang paling berat, yaitu bagaimana, kalau ada Allah yang Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahabaik, bisa ada sedemikian banyak kejahatan dan penderitaan di dunia. Dalam halaman 234, penulis menegaskan bahwa salahlah kalau manusia dilarang berpikir tentang Allah dengan pertimbangan bahwa Allah “terlalu tinggi” bagi manusia. Betul, Allah terlalu tinggi, tetapi bukan hanya bagi nalar manusia, melainkan terhadap segenap wicara tentang Allah. Tetapi Allah tidak memberikan daya nalar kepada manusisa untuk dikunci di garasi. Berhadapan dengan Allah pun, manusia tidak dapat, dan tidak perlu, mematikan pertanyaannya. Sangat wajarlah bahwa manusia sebagai makluk rasional ingin mengerti tentang Tuhan. Ya, buku ini ditulis bagi Anda yang masih percaya kepada Tuhan, bagi Anda yang (mungkin) meragukan Tuhan, dan juga bagi Anda yang bisa merasakan pertanyaan : Apakah orang yang ingin berpikir jujur dan berkeyakinan humanis masih dapat percaya kepada Tuhan? Buku ini tidak mau “membuktikan” adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa di abad ke-21 pun manusia tetap dapat percaya kepada Tuhan tanpa harus menyangkal kejujuran intelektualnya.
Buku yang terkait dengan informasi ini :
APAKAH MASUK AKAL MASIH PERCAYA KEPADA TUHAN ?
Harga retail : Rp. 0,-
Harga kami : Rp. 0,-
Anda menghemat : Rp. 0,- (%)
. add to cart
|