Dalam sejarah hidup rohani manusia, kerinduan terdalam dan tertinggi adalah “memandang Allah”. Oleh karena itu St. Agustinus menyebut manusia sebagai Cor Inquetum, hati yang selalu mencari untuk memandang Allah. Namun mampukah manusia memandang Allah? Mampukah manusia menanggung dasyatnya kemuliaan wajah Allah? “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup (Kel 33:20), demikian dikatakan-Nya kepada Musa. Manusia tidak dapat memandang Allah dalam hakikatnya (secara utuh dan penuh), jika demikian ia akan mati.
Namun kenyataan tersebut tidak memudarkan kerinduan manusia untuk menatap-Nya. Mereka berdoa terus menerus dalam kuasa cinta hingga apa yang dirindukannya dapat terwujud. Mereka menyebutnya dengan kontemplasi. Dalam doa kontempatif Meditasi Kristiani, mereka belajar untuk membuka mata batinnya untuk memandang-Nya dalam cinta, karena cintalah sang penggerak sekaligus buah dari kontemplasi. Dan menariknya hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang menaruh cinta yang mendalam kepada Tuhannya.
St. Yohanes Maria Vianey, Santo Pelindung Para Imam, pernah mendapatkan pelajaran berharga dari seorang petani sederhana perihal doa. Dalam kisah hidupnya ia menceritakan tentang seorang petani yang memiliki kebiasaan unik. Setiap sore sepulangnya dari ladang, ia singgah ke gereja, setelah memberi hormat kepada Yesus ia duduk diam dan terus memandang Tabernakel, tanpa berkata-kata. Kejadian itu terjadi berulang kali, terus menerus, sehingga membuat sang pastor menjadi penasaran. Suatu hari ia bertanya kepada petani itu, apa yang lakukannya. Dan ia mendapat jawaban, “Pastor, saya memandang Dia-Dia memandang saya.”.
Kontemplasi kerap dilukiskan sebagai “Memandang Allah” – Saya memandang Dia. Dan kata kuncinya adalah Cinta itu sendiri, karena Cinta-lah yang menggerakan hati dan pikiran untuk memandang atau mencari kebenaran, itulah Allah. Dengan kontemplasi, Cinta semakin bertumbuh. Dalam kontemplasi, Cinta adalah awal dan akhir. Kita menjadi penuh gairah untuk memandang Allah, dan terus memandang-Nya. Dan kesadaran kontemplatif bahwa Allah pun memandang kita. Sehingga sungguh tepatlah apa yang dikatakan St. Agustinus, “Aspice me Domine, ud diligam Te! (Pandanglah aku ya Tuhan, agar aku (mampu) mencintai-Mu!).
Buku ini merupakan kumpulan bahan pendalaman Meditasi Kristiani, baik untuk kegiatan rutin maupun untuk pertemuan mingguan komunitas, untuk keperluan rekoleksi maupun retret. Pribadi maupun secara berkelompok. Terbagi dalam 7 bab yang masing-masing babnya mengupas apa itu kontemplasi, Spriritualitas Meditasi Kristiani, Roh dalam Doa kontemplatif dan Karismatik, Bertumbuh dalam Cinta, Buah Rohani Meditasi Kristiani. Dan Teknik-teknik Meditasi Kristiani serta alamat Komunitas Meditasi Kristiani di Indonesia dan cabang-cabangnya yang bisa kita hubungi jika kita tertarik dan ingin bergabung.
Paparan dalam buku ini, sangat baik dikonsumsi dan dipahami oleh para pendamping retret dan rekoleksi, aktifis paroki, para devosan, serta mereka yang terpanggil untuk semakin dekat dengan dan ingin memandang wajah-Nya. Dalam ukuran saku, buku ini menjadi sangat ringan dan mudah dibawa-bawa. (PX/Kuasa Doa April 2011)








